Edhi Handoko: Sang Pendekar Catur dari Tanah Solo


Di sebuah kota yang sarat budaya, Solo, pada tanggal 28 Agustus 1960, lahirlah seorang anak laki-laki yang kelak akan menjadi salah satu legenda catur Indonesia. Namanya Edhi Handoko—sosok sederhana, tapi otaknya setajam bidak ratu di papan catur. Siapa sangka, dari sudut Jawa Tengah itu, lahir Grandmaster keempat Indonesia yang akan mengguncang papan-papan catur dunia.

Langkah Edhi dalam dunia catur dimulai sejak muda, dan langsung menunjukkan taringnya. Tahun 1978, di usia 18 tahun, ia telah menyandang gelar Master Nasional. Tak butuh waktu lama, ia melesat dengan prestasi beruntun: Master FIDE dan Master Internasional diraihnya pada tahun 1982. Namun puncak kariernya—momen yang membuat namanya tercatat abadi dalam sejarah catur Indonesia—adalah saat ia mengantongi gelar Grandmaster (GM) pada tahun 1994, dengan rating Elo yang mengesankan: 2.495.

Sebagai petarung sejati di atas papan catur, Edhi tidak hanya jago kandang. Ia empat kali meraih juara nasional, yakni pada tahun 1978, 1979, 1984, dan 1991. Di pentas PON, ia pun bersinar—emas perorangan dan beregu pada PON 1985, dan emas beregu di PON 2004, menunjukkan konsistensinya selama puluhan tahun.

Di kancah internasional, Edhi Handoko adalah duta catur yang tangguh. Ia delapan kali membela Indonesia dalam Olimpiade Catur, dari tahun 1980 hingga 2000. Lebih dari itu, ia dipercaya sebagai kapten tim putri Indonesia pada 1990, serta kapten tim putra pada 2006 dan 2008. Ia turut mempersembahkan medali perak beregu SEA Games 2003, dan dua kali membawa pulang gelar juara beregu Antarkota Asia pada 1993 dan 1994.

Namun sebagaimana permainan catur yang mengenal akhir, Edhi pun akhirnya memilih melangkah mundur dari dunia kompetitif, terutama karena alasan kesehatan. Tapi semangatnya tak padam. Ia mengalihkan dedikasinya menjadi pelatih dan mentor, membina generasi baru pecatur Indonesia. Di bawah bimbingannya lahir bintang-bintang baru, seperti Grandmaster Wanita Irene Kharisma Sukandar, serta juara dunia pelajar Farid Firmansyah.

Sayangnya, sang maestro berpulang terlalu cepat. Pada 17 Februari 2009, di Cibinong, Edhi Handoko menutup mata untuk selamanya, di usia 48 tahun. Meski raganya telah tiada, jejak langkahnya di dunia catur akan terus bergema, menjadi inspirasi bagi para pecinta catur Indonesia.

Edhi Handoko bukan hanya Grandmaster. Ia adalah pahlawan papan catur, simbol semangat pantang menyerah, dan bukti bahwa kecerdasan, disiplin, dan ketekunan bisa membawa seorang anak Solo menjadi legenda.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Edhi Handoko: Sang Pendekar Catur dari Tanah Solo"